Langsung ke konten utama

MAJELIS BURDAH ABUYA JUNAIDI, WARGA NU DEPOK PADATI MA'HAD AT-TIBYAN

Suara NU Panmas -18/10/2017
Jum'at malam, 13/10/2017, ratusan Warga NU Depok, terutama dari wilayah Pancoran Mas dan sekitarnya, padati Majelis Qasidah Burdah Asuhan Abuya KH. M. Junaidi HMS di Ma'had At-Tibyan Jalan Wadas Pitara Pancoran Mas Depok, pimpinan DR. KH. M. Yusuf Hidayat, MA.  Acara berlangsung selepas halat Isya' dimulai dengan membaca dzikir istighotsah untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan pasal demi pasal Qasidah burdah yang terdiri dari 10 pasal dan 160 bait hingga selesai dengan langgam yang bergantian tiap pasalnya. Acara dilanjutkan dengan tausiah dan penjelasan (syarah) terhadap Qasidah Burdah yang disampaikan Abuya Junaidi.

Dalam tausiahnya, beliau mengingatkan dan menasehati kepada kaum muslimin dan warga NU yang berumah tangga agar baik-baik dalam berumah tangga. Mertua dan menantu jangan berselisih. Suami dan istri jangan berselisih. Anak jangan durhaka kepada orang tuanya. Orang tua harus mendidik anak-anaknya. Para da'i dan guru harus mengamalkan ilmunya. Para murid harus beradab kepada gurunya. Terutama ketika Burdah dibacakan, agar jangan ada yang mondar-mandir, berjalan kesana dan kemari. Dia mengibaratkan, berdzikir harus dengan adab. "Kalau kita bicara sama orang dan orang itu tidak memperhatikan, plengas plengos, maka kita pasti tidak suka. Begitu juga dengan Allah SWT, Rasulullah SAW dan para wali, akan tidak suka juga jika kita tidak beradab dalam berdzikir " papar beliau.

Beliau juga menyinggung adanya gerakan politik wahabi dan kelompok yang anti Burdah dan menganggap puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW sebagai prilaku syirik. "Padahal kita tidak menuhankan Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan orang nasrani yang telah menuhankan Nabi Isa AS" kata beliau. Qasidah Burdah adalah karya Waliyullah al Imam al-Bushiri yang penuh berkah. Oleh karena itu, tidak mungkin mengajarkan kemusyrikan. Semua ada dalilnya.

Ia juga menegaskan bahwa majelisnya sebagaimana petunjuk dan pesan para gurunya bukanlah untuk berpolitik praktis. Tapi jika ada tokoh politik yang ingin datang dipersilahkan. Karena akan diajak untuk mendekat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Tampak hadir dalam acara ini, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Depok, Ust. H. Chaerul dan jajaran pengurus PRNU Pancoran Mas. Acara ini adalah kali kedua diadakan di Ma'had At-Tibyan dan diadakan setiap tanggal 13 Masehi setiap bulannya. Acara pembukaan perdana bulan yang lalu, dihadiri oleh jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama, dari Mustasyar sampai Tanfidziyah. Bahkan, sambutan langsung PCNU Depok disampaikan oleh Rais Syuriah, Abuya KH. Zainuddin Ma'shum dari Pesantren Al-Hamidiyah.

Acara ditutup pukul 23.00 sebagaimana arahan Abuya Junaidi. Tak heran, jika majelis ini tidak menggunakan pembawa acara (MC) mengingat padatnya acara yang harus dilaksanakan yaitu istighotsah dan membaca secara khatam Kitab Burdah sekaligus syarahnya. Acara terselenggara berkat kerjasama Laskar Jausyan, Ma'had At-Tibyan, dan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kelurahan Pancoran Mas yang baru saja terbentuk beberapa waktu yang lalu. Majelis Burdah Abuya Junaidi juga diadakan di wilayah lain seperti, di Majelis Betawi Keraton Pangkalan Jati, Ponpes Al Manar, Limo, IIQ Pondok Cabe, Masjid Kubah Emas, dll. *** (prnupanmas)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khutbah Jum'at : Lima Harapan Pegiat Ramadlan

LIMA HARAPAN PEGIAT RAMADLAN اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا وَقِيَامَ لَيَالِيْهِ تَطَوُّعًا وَصِيَامَ نَهَارِهِ وَاجِبًا وَثَوَابَ الْعَمَلِ فِيْهِ مُضَاعَفًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ سَيِّدُ وَلَدِ عَدْنَانْ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهِ ذَوِيْ الْمَجْدِ وَالْعِرْفَانْ. أَمَّا بَعْدُ فَـيَا أّيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بَتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوْا اللهِ حَقَّ تُقَاتِهِ   وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. (أل عمران : 102) Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah! Apa sebenarnya cita-cita dan harapan seorang muslim yang giat di bulan Ramadlan?. Jawabannya tergambar dalam do’a yang sering dipanjatkannya d...

Katib Syuriah PCNU Depok Pimpin Langsung Bahtsul Masail Nahdliyyin Kota Depok

Suara NU Pancoran Mas, Suara NU Pancoran Mas, Katib Syuriah PCNU Kota Depok pimpin langsung Bahtsul Masail Asatidz Muda Nahdliyyin Kota Depok di Pesantrennya, Ma'had At-Tibyan Pancoran Mas Kota Depok pada selasa sore tadi, 3 April 2018. Bahtsul Masail itu digelar untuk menyikapi puisi Sukmawati Soekarnoputri yang telah meresahkan umat Islam Indonesia. Sayangnya sebagian orang malah bilang bahwa menyikapi hal ini malah disebut sebagai sarat kepentingan politis dañ tidak ada hubungannya dengan agama (tidak perlu dikaji). Muallim Yusuf dkk pun maju terus menunjukkan kepedulian kepada permasalahan umat Islam (al ihtimam biumuuril muslimin) tanpa menghiraukan caci maki dari orang-orang yang picik pemikirannya dan berstandar ganda (satu sisi berslogan ingin menjauhkan agama dari politik, di sisi lain malah berpolitik total) . Para asatidz muda menilai Sukmawati telah menunjukkan kebodohan yang sangat bodoh dengan tidak mau belajar dari kebodohannya dan justru membanggakan kebo...

Santri Ma'had Aliy At Tibyan Gelar Bahsul Masail Soal Tabayyun

Suara NU Pancoran Maraknya penggunaan kata Tabayyun oleh masyarakat dan zaman di mana informasi apa saja merajalela di media sosial membuat para asatidz muda kota Depok berkumpul dan membahas soal tabayyun selasa kemarin, 10/4/2018 di Pondok Pesantren At-Tibyan Wadas Pancoran Mas Kota Depok pimpinan Dr. KH M Yusuf Hidayat, Lc, MA (Muallim Yusuf). Beberapa poin yang dihasilkan dari forum tersebut adalah : 1. Makna tabayyun tidak hanya aktif tapi juga meliputi makna pasif dalam arti tatsabbut dan al wuquf (diam tidak komentar, menahan diri, tidak terpancing, tidak terbakar emosi/kebakaran jenggot/bersumbu pendek dan ghoirul i'timad ala qoulil fasiq (tidak mengandalkan ucapan orang fasik). 2. Media sosial yang terpercaya dapat menjadi rujukan tabayyun. 3. Klarifikasi tidak dapat disamakan dengan makna tabayyun yang luas. 4. Berhati-hati untuk menyuruh orang tabayyun karena dapat diartikan menuduh sebagai orang fasik. 5. Pasal-pasal KUHP turut menjadi keterangan dalam Bah...