Suara NU Pancoran Mas, 22/10/2017
Hari Santri 22 Oktober 2017, Pengurus Anak Ranting NU Kelurahan Pancoran Mas, Majelis Ta'lim Al-Ibthon melakukan kegiatan sebagaimana biasa, yaitu pengajian rutin kitab Adabul Alim Wal Muta'allim karya Pendiri NU dan Pencetus Resolusi Jihad, yaitu Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'arie sekaligus mengenang dan mengirim doa untuknya serta penjelasan singkat tentang sejarah Hari Santri.
Pengajian yang diasuh oleh Ustadz Darul Qutni setiap Hari Minggu pukul 14.00-16.00 WIB telah sampai pada adab ke delapan yang harus dimiliki oleh santri. Diantaranya tidak boleh berdehem di depan guru, meludah, bersin yang keras dan disengaja di depan guru, membentak teman ngaji tanpa seizin guru. Santri hendaknya juga menegur orang yang tidak beradab kepada gurunya. Tidak shalat di tempat shalat guru, tidak tidur di tempat guru, kecuali jika memang guru yang mengizinkan/menyuruhnya.
Dalam menaati perintah guru, ada hal yang dilematis yaitu apakah yang lebih utama, menjaga adab, atau menaati perintah guru. Karena terdapat kaidah : menjaga adab harus didahulukan dibanding menaati perintah guru (muro'atul adab muqoddamun min imtitsal al awaamir). Jawabannya kembali kepada penilaian santri. Jika ia menilai gurunya hanyalah dalam rangka melakukan perkara yang boleh saja, yaitu bermaksud menghormati muridnya dan memperhatikannya saja, maka yang lebih utama adalah tidak menuruti perintah guru. Contoh: jika gurunya menyuruh makan bersamanya, atau tidur di kasurnya, maka sebaiknya murid tidak perlu menurutinya. Jika santri menilai bahwa gurunya memang benar-benar serius dan menginginkan perintahnya dilaksanakan maka santri wajib menaati gurunya.***

Komentar
Posting Komentar