Langsung ke konten utama

Konsep Walisongo dalam Memakmurkan Masjid

Oleh: Darul Qutni, S.S.I
Sekretaris Lembaga Ta'mir Masjid PCNU Kota Depok. 

Para Walisongo adalah teladan bagi kita dalam memakmurkan Masjid-masjid Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mereka adalah para muballigh Islam dan dai penyebar Islam di Indonesia di abad 15 Masehi. Keberhasilan mereka dalam berdakwah masih terasa hingga saat ini. Penyiaran islam yang dilakukan para walisongo sangat rapat hubungannya dengan Masjid dan pesantren-pesantren. Bagaimanakah konsep mereka memakmurkan Masjid di masanya? Dapatkah hal itu dicontoh pada masa kini?.

Pertama, Masjid sebagai Pusat Ibadah. Ditunjukkan oleh Kanjeng Syekh Sunan Ampel Rahimahullah saat membangun langgar sederhana yang kemudian besar, megah dan bertahan sampai sekarang dan diberi nama Masjid Rahmad. Setibanya di Ampel langkah pertama Raden Rahmat Rahimahullah adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah.

Hal ini juga dilakukan Kanjeng Syekh Sunan Kudus Rahimahullah saat membuat masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyebaran agama. Masjid Kudus didirikan tahun 956 H/ 1549 M. (Purwadi, 2009)

Kedua, Masjid sebagai Pusat Dakwah dan Penyebaran Islam. Hal ini dicontohkan oleh Kanjeng Syekh Sunan Kalijaga Rahimahullah. Dia mengkonsep pendirian Masjid Demak sebagai pusat agama dan penuntasan Islamisasi di seluruh Jawa. Gerakan Islamisasi dilakukan melalui Masjid mengingat lembaga pesantren kala itu belum menemukan bentuk yang final.

Ketiga, Masjid sebagai Tempat Pengajian. Dilakukan oleh Kanjeng Syekh Sunan Drajat Rahimahullah. Dia membuat masjid yang agak jauh dari tempat tinggalnya. Masjid itulah yang menjadi tempat berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk. Pengajian di Masjid atau langgar adalah salah satu dari 5 (lima) cara dakwah Kanjeng Syekh Sunan Drajat Rahimahullah. Adapun cara yang kedua, adalah dengan metode pendidikan di pesantren. Ketiga, fatwa atau petuah. Keempat, kesenian tradisional.

Keempat, kesatuan Masjid dan Pesantren. Ini merupakan konsep yang khas dari Walisongo di mana penyebaran Islam melalui Masjid merupakan sesuatu yang include dengan Pesantren. Contoh kesatuan Masjid dan Pesantren adalah apa yang dilakukan oleh Kanjeng Syekh Sunan Ampel Rahimahullah  yang mendirikan Pesantren sekaligus Masjid. Beliau kerap mengelilingi pesantren dan masjidnya itu untuk mengetahui keadaan para muridnya yang belajar dan tidur di dalamnya. (H. Aboe Bakar Atcheh, 2011)

Kelima, Masjid yang Berkebudayaan. Konsep ini juga merupakan kekhasan konsep dakwah Walisongo yang tidak frontal dalam berdakwah namun menggunakan strategi kebudayaan. Kanjeng Syekh Sunan Kudus Rahimahullah membangun menara untuk azan dengan desain seperti bangunan hindu yang saat ini dikenal dengan menara kudus. Menara berasal dari bentuk kata tempat (shigat isim makan) dalam bahasa arab yang artinya tempat api/cahaya. Menara ini kemudian dimanfaatkan untuk menyeru orang sembahyang.

Kanjeng Syekh Sunan Kudus Rahimahullah juga menggunakan beduk untuk mengundang jamaah ke Masjid untuk mengumumkan itsbat awal ramadhan. Beduk yang tergantung pada tiap-tiap serambi masjid itu, yang dipukul untuk memperingatkan kepada waktu shalat, bukanlah sesuatu yang baru sejak zaman dahulu pun sudah dialami oleh rakyat memukul tambur periuk dan perunggu yang berasal dari zaman purbakala.


Aboe Bakar Atcheh mengatakan, (2011) di dalam masjid Demak, masih dapat dilihat beberapa bagian yang berukir menurut motif kebudayaan Hindu dan zaman Majapahit itu, misalnya, tiang yang bernama Soko Majapahit pada pendopo Masjid itu. Begitu juga keadaannya masih sangat jelas menggambarkan bentuk Kesenian Hindu-Jawa. Dalam pada itu, kita dapati beberapa buah masjid yang di sekelilingnya ada selokan air. Keadaan yang mengingatkan kita kepada telaga-telaga suci yang biasanya terdapat pada candi-candi Hindu, misalnya, Candi Jawi.

Konsep Masjid yang berkebudayaan ini menurut Syaiful Arif (2009) dianggap sebagai keberhasilan rekonsiliasi antara Islam dan budaya yang bertitik tolak dari kemampuan memahami wahyu dengan mempertimbangkan berbagai faktor konstektual, termasuk kesadaran hukum dan rasa keadilan. Keberhasilan proses pribumisasi Islam dapat dilihat dari kemampuan kamu muslim seluas mungkin mengembangkan aplikasi wahyu guna memenuhi kebuthhan masyarakat, misalnya arsitektur ranggon atau atap dari Masjid Demak. Lapis atap masjid tersebut diambil dari konsep meru agama Hindu yang kemudian diislamkan dari sembilan susun menjadi tiga susun. Konsepnya merujuk pada tahapan kesempurnaan hamba di hadapan Gusti Allah Ta'ala yakni iman (muslim meraih keyakinan monoteistik), Islam (kesadaran syariat), dan ihsan di mana muslim sudah mendalami tasawuf, hakikat dan ma'rifat. Pada tingkat ini mulai disadari keyakinan tauhid dan ketaatan syariat mesti berwujud kecintaan kepada sesama manusia.

Tiap masjid terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mempunyai pendopo atau serambi di depannya, yang sukar kita terka maksud asalnya, apakah supaya bentuknya mirip rumah peribadahan Hindu ataukah untuk tempat mengadakan sedekah-sedekah untuk arwah mereka yang sudah meninggal, jelas keadaan sudah mendekati Islam, sajen lama sudah berganti dengan doa, zikir dan bacaan al Qur'an.

Pada waktu mengadakan perayaan Maulid Nabi ini seminggu sebelumnya dipukul gamelan di halaman depan masjid. Hal yang mungkin bertentangan dengan Islam karena Islam menghendaki ketenangan. Tetapi oleh mubaligh zaman yang lampau itu dikemukakan sebagai alasan bahwa tabuh-tabuhan itu gunanya untuk menarik rakyat umum datang ke Masjid dan bukanlah untuk memanggil jiwa halus dan para nenek moyang supaya turut makan bersama sama anak cucunya yang masih hidup.

Sampai kepada bentuk Masjid di era Walisongo disesuaikan dengan bangunan yang sudah galib dalam masa Hindu. Ia harus mempunyai atap bertingkat supaya sesuai dengan bentuk gedung-gedung umum pada masa itu, untuk tempat rapat, perayaan, dsb, seperti yang sampai sekarang masih terdapat di Bali dengan nama Badung, tempat mengadu ayam.***


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khutbah Jum'at : Lima Harapan Pegiat Ramadlan

LIMA HARAPAN PEGIAT RAMADLAN اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا وَقِيَامَ لَيَالِيْهِ تَطَوُّعًا وَصِيَامَ نَهَارِهِ وَاجِبًا وَثَوَابَ الْعَمَلِ فِيْهِ مُضَاعَفًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ سَيِّدُ وَلَدِ عَدْنَانْ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهِ ذَوِيْ الْمَجْدِ وَالْعِرْفَانْ. أَمَّا بَعْدُ فَـيَا أّيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بَتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوْا اللهِ حَقَّ تُقَاتِهِ   وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. (أل عمران : 102) Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah! Apa sebenarnya cita-cita dan harapan seorang muslim yang giat di bulan Ramadlan?. Jawabannya tergambar dalam do’a yang sering dipanjatkannya d...

Santri Ma'had Aliy At Tibyan Gelar Bahsul Masail Soal Tabayyun

Suara NU Pancoran Maraknya penggunaan kata Tabayyun oleh masyarakat dan zaman di mana informasi apa saja merajalela di media sosial membuat para asatidz muda kota Depok berkumpul dan membahas soal tabayyun selasa kemarin, 10/4/2018 di Pondok Pesantren At-Tibyan Wadas Pancoran Mas Kota Depok pimpinan Dr. KH M Yusuf Hidayat, Lc, MA (Muallim Yusuf). Beberapa poin yang dihasilkan dari forum tersebut adalah : 1. Makna tabayyun tidak hanya aktif tapi juga meliputi makna pasif dalam arti tatsabbut dan al wuquf (diam tidak komentar, menahan diri, tidak terpancing, tidak terbakar emosi/kebakaran jenggot/bersumbu pendek dan ghoirul i'timad ala qoulil fasiq (tidak mengandalkan ucapan orang fasik). 2. Media sosial yang terpercaya dapat menjadi rujukan tabayyun. 3. Klarifikasi tidak dapat disamakan dengan makna tabayyun yang luas. 4. Berhati-hati untuk menyuruh orang tabayyun karena dapat diartikan menuduh sebagai orang fasik. 5. Pasal-pasal KUHP turut menjadi keterangan dalam Bah...

Katib Syuriah PCNU Depok Pimpin Langsung Bahtsul Masail Nahdliyyin Kota Depok

Suara NU Pancoran Mas, Suara NU Pancoran Mas, Katib Syuriah PCNU Kota Depok pimpin langsung Bahtsul Masail Asatidz Muda Nahdliyyin Kota Depok di Pesantrennya, Ma'had At-Tibyan Pancoran Mas Kota Depok pada selasa sore tadi, 3 April 2018. Bahtsul Masail itu digelar untuk menyikapi puisi Sukmawati Soekarnoputri yang telah meresahkan umat Islam Indonesia. Sayangnya sebagian orang malah bilang bahwa menyikapi hal ini malah disebut sebagai sarat kepentingan politis dañ tidak ada hubungannya dengan agama (tidak perlu dikaji). Muallim Yusuf dkk pun maju terus menunjukkan kepedulian kepada permasalahan umat Islam (al ihtimam biumuuril muslimin) tanpa menghiraukan caci maki dari orang-orang yang picik pemikirannya dan berstandar ganda (satu sisi berslogan ingin menjauhkan agama dari politik, di sisi lain malah berpolitik total) . Para asatidz muda menilai Sukmawati telah menunjukkan kebodohan yang sangat bodoh dengan tidak mau belajar dari kebodohannya dan justru membanggakan kebo...